Produk eCommerce Lebih Laris dengan Mengoptimasi Para Pembeli Impulsif

Menarget para pembeli yang impulsif. Sedikit yang sadar bahwa pembeli bisa disugesti untuk “membeli” produk dengan memanfaatkan sisi psikologisnya. Meski di luar sana banyak blog, video Youtube, atau...

263 0
263 0
Pembeli Impulsif

Menarget para pembeli yang impulsif. Sedikit yang sadar bahwa pembeli bisa disugesti untuk membeli” produk dengan memanfaatkan sisi psikologisnya. Meski di luar sana banyak blog, video Youtube, atau bahkan akun media sosial yang berisi review produk, tidak jarang itu hanya sebagai pemuas” ego. 

Buktinya, 85% pembeli ini tergolong sebagai pembeli impulsif. Deskripsi lengkapnya bisa dilihat di sini:

Fakta bahwa 85% pembeli bersifat impulsif (cbsnews.com)

(BACA JUGA: Dimensi Brand Identity Ini Membuat Produk Laris Manis Saat Dirilis)

Selain itu, pembelian yang dilakukan para impulsif tersebut tidak main-main. Setidaknya, $100 hingga $1000. Angka yang cukup mencengangkan. Untuk mengkonversi para pengunjung dengan potensi seperti demikian, perlu taktik khusus. Terutama untuk mengobrak-abrik” sisi psikologisnya.

 

Kenali mereka yang berpotensi seperti demikian

Tidak semua customer bertipe impulsif. Oleh sebab itu, Anda harus mengenal seperti apa karakter customer seperti demikian. Coba lihat ini:

4 kepribadian pembeli menurut Bryan dan Jeffrey Eisenberg (crazyegg.com)

Berdasar empat kepribadian di atas, para pembeli impulsif masuk ke dalam kategori spontaneous. Karakter mereka yang berkepribadian seperti demikian suka dengan risiko dan responsif terhadap isyarat visual, terutama dari sisi warna.

(BACA JUGA: Kenapa Warna Kuning Potongan Buah pada King Mango Thai Sangat Menggoda?)

Para impulsif membeli untuk kepuasan, bukan kegunaan (fungsional). Selain itu, para pembeli yang sibuk” mencari kepuasan diri dan persetujuan dari orang lain merupakan pembeli  impulsif.

Soal risiko, mereka tidak terpikir soal konsekuensi pengeluaran (pembelian) yang telah dilakukan. Parahnya, mereka tidak berpikir soal nominal dari item yang dibelinya. Nyatanya, transaksi yang mereka lakukan tidak sedikit membebani pendapatan dan pos keuangan lainnya.

Fakta lain menunjukkan bahwa hampir semua para pembeli daring pasti terindikasi sebagai pembeli impulsif. Apabila mau, Anda bisa saja mengubah hampir semua orang menjadi pembeli impulsif. Apakah Anda siap untuk melakukannya?

 

Jangan asal menjual produk. Pilih yang benar-benar mereka favoritkan

Meski potensi terbuka lebar, jangan asal menjual produk. Salah menawarkan produk hanya akan membuat kerja keras Anda percuma. Produk atau item ini merupakan umpan” bagi para calon pembeli. Umumnya, item ini memiliki keterikatan” psikologis bagi si calon pembeli tersebut. Lihat ini:

Perbedaan jenis produk berdasarkan jenis kelamin (creditcards.com)

Nah, dari ilustrasi di atas coba lakukan hal ini:

  • Bila menargetkan pembeli pria, fokus pada produk yang kemungkinan besar mereka beli untuk pasangannya.
  • Bila menargetkan wanita, konsentrasi pada barang-barang yang sesuai untuk anak-anaknya.

Selain itu, soal penempatan produk pun harus dimanipulasi sedemikian rupa. Tempatkan barang-barang ini secara strategis di toko atau situs web. Tidak semua produk harus Anda tampilkan atau masuk frame foto produk. Bisa jadi, produk tersebut tergolong produk kebutuhan sehingga pasti” akan dibelinya. 

Misalnya: 

Anda menjual perabot rumah. Target utama Anda adalah pemilik rumah baru. Asumsinya, mereka butuh barang-barang tertentu untuk rumahnya. Item seperti: tempat tidur, sofa, dan meja dapur pasti dibutuhkan, tetapi hal tersebut tidak perlu ditonjolkan secara berlebihan. Fokus pada item lain, misalnya: perabot untuk ruang tamu atau televisi ekstra untuk kamar tidur. 

Seperti ini:

Cara Bedbath & Beyond mengimpulsif para calon pembeli (bedbathandbeyond.com)

Yang perlu Anda catat, bisa jadi perabot-perabot tersebut bukan kebutuhan, tapi konsumen berpeluang terpengaruh untuk membelinya. Bahkan, jikalau mereka sendiri tidak berencana untuk membelinya. 

Soal pembeli impulsif ini sangat menarik dan masih banyak yang ingin saya utarakan. So, saya lanjutkan di artikel berikutnya. Apabila ada pertanyaan, jangan sungkan menghubungi saya di halaman ini

 

References: 123456

Featured image: Pexels.com

 

In this article

Join the Conversation