[Case Study] Belajar dari BukaLapak & Tokopedia: Suka Duka Layanan Freemium bagi Startup Digital

Freemium atau layanan tak berbayar efektif sekali untuk mendatangkan audience baru. Oleh sebab itu, banyak startup memakainya. Sebut saja seperti Bukalapak dan Tokopedia. Keduanya menyediakan layanan freemium bagi...

468 0
468 0
Suka Duka Layanan Freemium

Freemium atau layanan tak berbayar efektif sekali untuk mendatangkan audience baru. Oleh sebab itu, banyak startup memakainya.

Sebut saja seperti Bukalapak dan Tokopedia. Keduanya menyediakan layanan freemium bagi seluruh user-nya. Akibatnya, jumlah pengguna kedua situs tersebut sudah mencapai angka jutaan. Tidak hanya itu, angka transaksi di kedua marketplace tersebut menembus angka ratusan juta dalam sehari.

Keunggulan strategi Freemium memang terbukti efektif. Sayangnya, ada batu sandungan yang harus siap ditanggung oleh si pemakai freemium, yaitu…

 

Ekspektasi pertumbuhan pengguna sering meleset

Menurut John Kopelman dalam situs redeye.firstround.com, fenomena freemium sering menempatkan pebisnis ke dalam posisi yang serba sulit. 

Meski disertai dengan layanan premium / berlangganan”, upaya memperoleh keuntungan tetap masih seret”. Apalagi, pebisnis hanya mengandalkan layanan premium (yang tidak seberapa) untuk memperoleh keuntungan.

Di sisi lain, ekspektasi berkata lain. Pertumbuhan pengguna yang semakin signifikan tidak berdampak positif pada pendapatan.

Fenomena the penny gap pada bisnis berkonsep freemium (guptamedia.com/case-study/free-google-play)

 

BACA JUGA: Freemium: Kumpulan Instagram for WordPress Sebagai Sumber Trafik Baru Situs

Umumnya, pendapatan langganan menyumbang 20-40% dari total pendapatan. Angka tersebut semakin riskan mengingat biaya langganan (premium) sangat rendah (tidak lebih dari $5/ bulan).

Sadar akan kondisi seperti demikian, para pelaku bisnis online pun mulai berpikir realistis. Ekspektasi mereka terhadap jumlah pengguna yang berlangganan berubah. Asumsinya, jumlah customer yang mau membayar hanya sebanyak 5% dari total pengguna yang ada.

 

Pikirkan, siapa pemberi subsidi atas seluruh biaya freemium?

Jumlah pengunjung yang membludak memang menyenangkan. Apalagi bila pertumbuhan mengalami peningkatan. Kesuksesan seakan berada di depan mata.

Namun, ada satu pertanyaan yang perlu Anda jawab, Siapa penanggung biaya atas seluruh layanan yang dinikmati oleh customer?”

Fenomena the penny gap yang amat mengkhawatirkan bagi pebisnis freemium (slideshare.net/MartinWesthead/free-psychology)

 

Mau tidak mau, Anda harus mencari jalan alternatif untuk menghasilkan uang. Setidaknya, penghasilan tersebut mampu menutup seluruh biaya layanan dan pemasaran selama ini.

Seringkali, pebisnis mengabaikan hal ini. Akibatnya pun tidak sembarangan. Bisnis berpotensi mengalami kebangkrutan sesegera mungkin.

Solusi atas permasalahan the penny gap ini bisa mencontoh Dropbox atau Pandora. Dropbox mengintegrasikan layanan user affiliate sehingga layanan freemium akan menambal” biaya pemasaran. Sedangkan, Pandora mengandalkan iklan” untuk memenuhi biaya kebutuhan produksi dan perawatan platform.

 

Pertegas layanan freemium di setiap platform (yang menyediakan situs atau bisnis Anda)

Katakan, Anda memiliki bisnis digital di bidang mobile apps. Dan, Anda memilih layanan berkonsep freemium. Maka, digital campaign bisnis harus dilakukan secara masif. Pesan freemium” pada bisnis pun harus dipertegas.

Pertegas layanan freemium di berbagai platform dan media (guptamedia.com/case-study/free-google-play)

 

Targetnya, apabila ada customer yang melihat poster atau campaign bisnis seperti demikian, maka ia tertarik untuk berkunjung” ke situs atau mobile apps Anda. Layanan freemium merupakan teknik paling efektif untuk mendatangkan pengguna besar dalam waktu singkat. Sehingga, energi bisnis harus dialihkan ke target tersebut.

Contoh banner campaign freemium (guptamedia.com/case-study/free-google-play)

 

Abaikan terlebih dulu soal penghasilan atau pendapatan. Yang terpenting saat ini, jumlah pengguna semakin bertambah dan pendapat cukup” menghidupi situs dan staf karyawan.

Sebagai referensi, Anda bisa memakai beberapa sosial media untuk melakukan brand awareness bisnis atau produk:

Social media yang terbukti efektif untuk brand awareness (buzzstream.com/blog)

 

Apabila masih kesulitan soal hal ini, simak kembali beberapa tulisan saya yang berkategori digital campaign atau brand awareness startegy.

 

 

Source: http://redeye.firstround.com/2007/03/the_first_penny.html

http://www.guptamedia.com/case-study/free-google-play/

Image: https://pixabay.com/

In this article

Join the Conversation