Khusus e-Commerce: Tips Membuat Customer Membeli Produk untuk Kedua Kalinya

Salah satu permasalahan dari bisnis e-commerce yaitu menarik customer untuk membeli produk lagi.  Bukan apa-apa, taktik untuk membuat customer melakukan pembelian pertama itu susah. Setidaknya, Anda membutuhkan tahapan...

472 0
472 0

Salah satu permasalahan dari bisnis e-commerce yaitu menarik customer untuk membeli produk lagi. 

Bukan apa-apa, taktik untuk membuat customer melakukan pembelian pertama itu susah. Setidaknya, Anda membutuhkan tahapan yang harus dilakukan secara konsisten. Dimulai dari awareness, lanjut ke interest, consideration dan purchase. Jalan panjang tersebut akan jadi sia-sia, apabila Anda melepas customer pasca ia membeli produk untuk pertama kalinya.  Coba perhatikan ini:

Customer journey steps (econsultancy.com)

 

Upaya menarik pelanggan untuk membeli produk ternyata cukup panjang bukan? Oleh sebab itu, upayakan segala takti baru mengembalikan customer (yang telah membeli produk) untuk melakukan pembelian kembali. 

Agaknya, usaha mengembalikan” customer pada tempatnya cukup potensial untuk kelangsungan bisnis di masa depan. Asalkan, Anda berhasil menarik si customer untuk melakukan pembelian kedua kalinya. Diketahui, customer retention dengan minimal 2-3 kali pembelian cenderung akan membeli ulang di waktu mendatang. 

Customer retention potential (blog.getresponse.com)

 

Supaya skenario tersebut berjalan sesuai ekpektasi, silakan buat beberapa email campaign. Jenis campaign ini memiliki potensi cukup besar untuk menarik customer melakukan pembelian ulang. Dibanding social media marketing dan content marketing, email marketing 2x lebih efektif. 

BACA JUGA: 5 Cara Menjadikan Instagram Sebagai Sarana Social Media Marketing yang Efektif

 

Berikut ini beberapa referensi email marketing yang diperuntukkan sebagai customer retention technique:

 

Format I Miss U”

Opsi pertama yaitu email aku merindukanmu”. Terasa agak bagaimana membaca istilah tersebut. Namun, konteksnya di sini untuk customer.

Jenis email campaign ini biasanya disertai diskon atau voucher. Selain untuk meningkatkan CTR, cara ini dipakai supaya customer tidak khawatir” saat email seperti ini datang kembali. Lebih-lebih, ia mengharap memperoleh email seperti demikian di kemudian hari. Gara-garanya jelas, Anda menyertakan diskon atau voucher di dalam email tersebut. 

Umumnya, di dalam body email disertakan call to action” yang mengarah ke halaman tertentu. Halaman tersebut berisis detail informasi mengenai ketentuan dan syarat diskon atau voucher yang diberikan. Cara seperti demikian dipakai oleh Starbucks.

Contoh campaign disertai diskon StarbucksStore (blog.kissmetrics.com)

 

Review Reminder

Terkadang, customer jengah untuk memberi review pada produk yang telah dibelinya. Padahal, bagi bisnis e-commerce hal tersebut amat penting sekali.

Namun, itu tak apa. Rasa malas” customer bisa dikondisikan sedemikian rupa sehingga menjadi taktik customer retention. Caranya, buat email campaign yang substansinya” me-review pembelian customer sebelumnya. Desain sesederhana mungkin.

Contoh email review Amazon (blog.kissmetrics.com)

 

Seperti sampel di atas, tersedia beberapa opsi. Selain terintegrasi dengan tools input product review, opsi tersebut akan ter-redirect secara otomatis ke halaman produk tertentu setelah customer menyelesaikan tugasnya”. 

Email campaign jadi tersamarkan dengan teknik ini. Soal efektivitas tentu harus berdasarkan riset. Terutama dari sisi produk referensi yang ditampilkan selanjutnya. Skenarionya, bila customer memberi review positif, ia pasti akan membeli salah satu produk referensi tersebut. 

Meski terbilang sepele, untuk meningkatkan efektivitas tetap diperlukan customer riset agar produk rekomendasi tepat sesuai kebutuhan atau keinginannya. 

 

Demoghrapic View

Kondisi demografi bisa dijadikan entry point supaya customer melakukan pembelian ulang. Barang-barang rekomendasi pun menyesuaikan kondisi demografi. Misalnya ini:

Contoh email reminder berdasarkan kondisi demografi (blog.kissmetrics.com)

 

Cara ini dianggap efektif karena menyesuaikan kebutuhan customer. Apalagi bila demografi customer terbilang ekstrem. Campaign seperti ini akan ditanggapi positif oleh customer. Bukan soal produknya, tetapi pada substansi email campaign tersebut. Misalnya ini:

Contoh email reminder berdasarkan kondisi demografi yang ekstrem (blog.kissmetrics.com)

 

Apabila dilakukan secara konsisten, maka customer pun tidak akan segan melirik produk Anda. Yang terpenting di sini, penekanan pada customer problem harus lebih porsinya dibanding detail produk Anda.

 

 

Source: 1, 2, 3

Image: Pexels.

In this article

Join the Conversation